Selasa, 10 Mei 2016

Hati yang Lembut


Cerita ini berawal ketika kami sekeluarga berlibur di luar negeri.  Kami dilayani oleh seorang anak gadis ketika kami makan di sebuah restoran yang cukup ternama di negara itu. Ketika ikan yang kami pesan disajikan, piring yang dipegang pelayanan malah miring dan menumpahkan saus ikannya ke atas tas kulit saya.

Saya marah !

Tapi, sebelum saya meluapkan emosi saya, putriku langsung berdiri dan menghampiri pelayan itu.

Dengan senyuman dari wajahnya dia menepuk pundaknya dan berkata, "Tidak apa-apa kok."

Pelayan itu ketakutan dan merasa bersalah berkata, "Maaf, saya akan ambilkan lap."

Putriku menjawabnya, "Sudah tidak apa, nanti akan saya bersihkan ketika saya pulang. Kamu kembali bekerja saja, beneran tidak apa-apa kok."

Anak perempuanku berkata dengan sangat lembut, seperti dia yang melakukan kesalahan. Saya menatap tajam anak saya dan rasanya emosi saya sudah pada puncaknya. Soalnya, dia sudah menghalang-halangi saya berkata tegas pada si pelayan yang teledor itu.

Malam harinya ketika kami kembali ke hotel, kami ibu dan anak berbaring di atas ranjang melepas rasa lelah. Di waktu yang seharusnya menjadi waktu istirahat, putriku malah mengungkit masalah di restoran tadi.

Dia bercerita bagaimana pengalaman dia di London 3 tahun lalu. Tiga tahun lalu demi mengajarinya untuk hidup mandiri, saya dan suami saya tidak mengizinkan dia pulang untuk liburan musim panas, malahan kami berharap dia bisa pergi berlibur di sana atau cari kerja di sana.

Image source: Pinterest

Putriku yang manja dan tidak biasa melakukan pekerjaan rumah ini, malah memilih menjadi seorang pelayan di sebuah restoran di Inggris.
Namun hari pertama mulai bekerja saja dia sudah membuat kesalahan fatal. Dia ditugaskan untuk pergi ke dapur membersihkan gelas – gelas anggur yang tipis. Gelas tipis dan bening yang jika dibersihkan dengan tenaga yang kuat akan mudah pecah. Putriku pun akhirnya membersihkan semua gelas yang kelihatannya tidak akan habis dibersihkan. 

Tapi siapa sangka, ketika dia memutarkan badannya, dia tidak sengaja mendorong setumpukan gelas tersebut dan dalam sekejap gelas-gelas itu pun berubah menjadi sekumpulan keping-keping kaca. 

"Ma, waktu itu, rasanya aku tuch seperti langsung masuk neraka tahu gak?"

Suara putriku bergetar ketika menceritakannya kembali pengalamannya. Tapi, apa reaksi dari Bossnya?
Boss-nya menghentikan semua pekerjaannya dan menghampiri dia, memeluk dia sambil berkata, "Oh sayang, kamu tidak apa – apa khan?"

"Kemudian, dia berbalik dan menyuruh rekan kerja yang lain, "Tolong bersihkan keping – keeping gelas ini yach !"

Dia sama sekali tidak mengeluarkan kata-kata yang membuat aku tertuduh," kata putriku sambil mengingat masa lalunya.

"Sudah jatuh tertimpa tangga" barangkali adalah pribahasa yang cocok untuk putriku. Dia melakukan satu kesalahan fatal lagi yaitu tidak sengaja menumpahkan anggur ke atas gaun tamu yang datang! 

Dalam hatinya dia berkata, "Matilah aku ! Pasti boss akan pecat aku !" 

Tapi siapa sangka, tamu itu menghiburnya! 

Dia berkata, "Tidak apa-apa... Alkohol gampang khoq dibersihkan."

Dia pun berdiri, menepuk pundak putriku dan pergi ke kamar mandi membersihkan gaunnya.

Suara putriku terdengar penuh dengan rasa bersyukur dan berkata, "Ma, kalau orang lain saja bisa memaafkan putrimu yang manja ini, masa mama tidak bisa memaafkan orang lain?
Anggap saja mama memaafkan putri sendiri."

Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Sebagai ibu, hari ini aku bersyukur punya putri seperti dia.

***
Konon, menurut teman, ini adalah kisah nyata. 
Benar atau tidak, semoga ada pesan yang bisa terambil ketika kita membaca dan memaknainya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar