Senin, 23 Mei 2016

Pergerakan Indonesia Maju (PIM)

Kemajemukan Indonesia sudah selayaknya dipandang sebagai anugerah sekaligus kekuatan untuk memajukan bangsa, bukan kelemahan yang memicu perpecahan. Kekuatan itu harus dikelola dan dimanfaatkan dalam menghadapi ujian dan tantangan yang muncul di era global saat ini.

Pergerakan Indonesia Maju (PIM) secara resmi dideklarasikan di Jakarta Convention Center, Sabtu (21/5). PIM merupakan perkumpulan lintas agama, suku, dan profesi yang bertujuan membantu menyelesaikan permasalahan bangsa. Perkumpulan ini dipimpin Din Syamsuddin sebagai Ketua Dewan Nasional, Siti Zuhro dan Philip Kuntjoro Widjaja sebagai Wakil Ketua Dewan Nasional serta Ali Masykur Musa sebagai Sekretaris Dewan Nasional.

"Kemajemukan Indonesia adalah anugerah Ilahi yang patut kita syukuri. Kemajemukan harus menjadi kekuatan untuk kemajuan bangsa, bukan sebaliknya, menjadi kelemahan yang memicu perpecahan," ujar Ketua Dewan Nasional Pergerakan Indonesia Maju (PIM) Din Syamsuddin dalam pidato kebangsaannya di Jakarta, Sabtu (21/5) malam.

Dihadiri ratusan warga dan perwakilan pemerintah dari dalam dan luar negeri, PIM dideklarasikan. PIM merupakan perkumpulan sosial yang didirikan 45 tokoh nasional. PIM dibentuk untuk berkontribusi memajukan Indonesia, antara lain dengan mengembangkan sikap mengedepankan kepentingan bangsa, menghargai perbedaan dan toleran, menghindari sifat feodalisme dan primordialisme buta, menjauhi korupsi, melepas ketergantungan dari bangsa lain, serta menyeimbangkan kehidupan dalam menjalankan ajaran agama yang baik.

Dengan deklarasi tersebut, warga diharapkan dapat bergotong royong mewujudkan cita-cita bangsa tanpa melihat perbedaan agama, suku, budaya, dan bahasa.

Din menegaskan, Indonesia memiliki kemajemukan khas dalam bidang agama, suku, budaya, dan bahasa. Perbedaan itu tersebar di belasan ribu pulau. Kemajemukan sebenarnya dapat menjadi ujian sekaligus tantangan bagi suatu bangsa. Ujian dalam meredam potensi perpecahan bangsa yang muncul dari kelompok atau suku tertentu, tantangan menghadapi pesatnya interaksi antarnegara yang semakin terbuka akibat globalisasi.

Para pendiri bangsa memang telah menyemai kemajemukan Indonesia dalam semangat persatuan dan kesatuan dalam dasar negara Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Namun, menurut Din, tidak mudah menyatukan kemajemukan bangsa dalam sebuah landasan bersama. Hal itu hanya dapat dilakukan dengan kelapangan dada dan sikap tenggang rasa antarumat manusia. Oleh karena itu, nilai-nilai kebersamaan dan wawasan kenegarawanan harus ditanamkan sejak usia dini.

Terjajah secara Ekonomi

Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Irman Gusman dalam pidatonya menambahkan, era kebangkitan nasional yang dimulai 108 tahun lalu seyogianya menjadi cermin semangat terus maju untuk mewujudkan tujuan bersama. Primordialisme harus dikesampingkan ketika berbicara Pancasila dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Tantangan terbesar bukan dengan negara lain, tetapi dengan bangsa sendiri," kata Irman.

Irman menuturkan, tulisan Bung Karno dalam sebuah surat kabar pada 1930 ketika Indonesia masih dijajah Belanda menyebutkan tiga ciri ekonomi bangsa terjajah. Antara lain, kekayaan alam dijadikan sebagai bahan baku murah untuk menyokong ekonomi dan industri negara penjajah, menjadi pasar untuk menjual produk industri negara penjajah, serta tempat mencari rente untuk memutar modal negara yang menjajah.

Menurut Irman, tiga ciri tersebut masih relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. Buktinya, banyaknya bahan baku alam, seperti tambang, mineral, dan gas, yang diekspor. Bahkan, Indonesia menjadi salah satu negara pengekspor gas mentah terbesar di dunia yang mencapai 60 persen. Selain itu, Indonesia juga masih dianggap pasar bagi negara-negara maju karena memiliki jumlah penduduk terbesar keempat di dunia. Di bidang perbankan dan asuransi, hampir 50 persen perusahaan di Indonesia dikuasai asing.

"Itu semua menjadi tantangan yang harus kita hadapi bersama," kata Irman. 

Disadur dari versi cetak artikel yang terbit di harian Kompas edisi 23 Mei 2016 halaman 5 dengan judul "Jadikan Kemajemukan sebagai Kekuatan".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar