Deklarasi Sirnagalih adalah pernyataan yang ditandatangani 57 jurnalis. Pada 7 Agustus 1994 itulah kemudian terbentuk Aliansi Jurnalis Independen. Beberapa anggotanya kemudian dipenjara karena deklarasi ini. Berikut isi deklarasi:
Bahwa sesungguhnya kemerdekaan berpendapat, memperoleh informasi dan kemerdekaan berserikat adalah hak asasi setiap warga negara.
Bahwa sejarah pers Indonesia berangkat dari pers perjuangan yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, serta melawan kesewenang-wenangan.
Dalam melaksanakan misi perjuangannya, pers Indonesia menempatkan kepentingan dan keutuhan bangsa di atas segala kepentingan pribadi maupun golongan.
Indonesia adalah negara hukum, karena itu pers Indonesia melandaskan perjuangannya pada prinsip-prinsip hukum yang adil, dan bukan pada kekuasaan.
Berdasarkan prinsip-prinsip tersebut maka kami menyatakan:
Satu, menolak segala bentuk campur tangan, intimidasi, sensor, dan pembredelan pers yang mengingkari kebebasan berpendapat dan hak warga negara memperoleh informasi.
Dua, menolak segala upaya mengaburkan semangat pers Indonesia sebagai pers perjuangan.
Tiga, menolak pemaksaan informasi sepihak untuk kepentingan pribadi dan golongan yang mengatasnamakan kepentingan bangsa.
Empat, menolak penyelewengan produk-produk hukum yang bertentangan dengan Pancasila dan UUD 1945.
Lima, menolak wadah tunggal profesi kewartawanan.
Enam, memproklamirkan pendirian ALIANSI JURNALIS INDEPENDEN sebagai salah satu wadah perjuangan pers Indonesia.
Ditandatangani oleh 57 jurnalisPada tanggal 7 Agustus 1994Di Sirnagalih, Bogor, Jawa Barat
Adapun penandatangannya adalah:
- Ahmad Taufik
- Amira Jufri
- Andreas Harsono
- 4. Ardian T Gesturi
- Arif Budiman
- Aristides Katopo
- Asikin
- Ati Nurbaiti
- Ayu Utami
- Bambang Harymurti
- Bina Bektiati
- Budiman S. Hartoyo
- Candra Negara
- Christianto Wibisono
- Dadang Rachmat HS
- Dhia Prekasha Yoedha
- Diah Purnomowati
- Didik Budiarta
- Didik Supriyanto
- Dwi Setyo Irawanto
- Eros Jarot
- Farid F Cahyono
- Fikri Jufri
- Goenawan Mohamad
- Happy Sulistyadi
- Hasudungan Sirait
- Heddy Lugito
- Hendrajit
- Ida Farida
- Idon Haryana
- Imran Hasibuan
- Indrawan
- Jalil Hakim
- Janoe Arijanto
- Jus Soema Dipraja
- Kelik M Nugroho
- Lenah Susianty
- Liston Siregar
- M Anis
- M Thoriq
- Moebanoe Moera
- Nuruddin Amin
- Putu Wirata
- Ragawa Indra Marti
- Rinny S. Doddy
- Rustam Fachri Mandayun
- Saifullah Yusuf
- Santoso
- Satrio Arismunandar
- Toriq Hadad
- Wahyu Muryadi
- Yoanida Rosita
- Yopie Hidayat
- Yopie Lasut
- Yosep Adi Prasetyo
- Zed Abidien
Jika cukup rajin menelisik nama-nama ini satu per satu, kita akan menemukan bahwa sebagian besar dari mereka saat ini mempunyai posisi yang cukup vital dalam menentukan arah pemberitaan di media massa. Beberapa ditakuti oleh para politisi, beberapa bisa diajak kompromi, dan sebagian lagi kelihatan senyap dalam aksi, barangkali lebih memilih berdiam diri dan berkontemplasi.
Yang jelas, mereka berkontribusi terhadap independensi media terhadap kekuasaan, sesuatu yang mesti dibayar dengan harga mahal terutama di zaman dimana kekuasaan adalah dirigen bagi semua komunikasi - yang hingga saat ini belum final dikoreksi.
Yang jelas, mereka berkontribusi terhadap independensi media terhadap kekuasaan, sesuatu yang mesti dibayar dengan harga mahal terutama di zaman dimana kekuasaan adalah dirigen bagi semua komunikasi - yang hingga saat ini belum final dikoreksi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar