Kamis, 21 Juli 2016

Yang Masih Utuh Kendati Dipenjara

Why Lawbreaking



Satu-dua dari teman-teman saya ada yang saya dengar pernah dipenjara. Semakin bertambah pergaulan, angka itu semakin banyak. Entah karena mereka divonis melakukan kejahatan karena membela diri atau karena tidak terima dengan struktur sosial yang menurut mereka harus diterobos, masing-masing punya pengalaman dan keprihatinan sendiri soal dinginnya sel.

Ini bukan soal Barabas, kriminal, atau koruptor yang justru rajin beramal dan amalnya kerap diumumkan, tetapi sepertinya kesaksian-kesaksian dari mereka menunjukkan bahwa mereka tidak ingin semua yang mereka miliki akhirnya hilang. Yang jelas, beragam motif yang menyebabkan mereka memilih langkah yang melanggar hukum. Kerap, kendati tidak terpublikasi, justru untuk menunjukkan tingkatan hukum yang lebih tinggi. Sulit untuk menentukan seberapa "bersalah" seseorang yang memukuli orang perampok sampai mati. 





Harga diri, ini sangat relatif, tetapi kerap dianggap musnah oleh masyarakat.
Tidak jarang, sedingin-dinginnya sel, penerimaaan dari masyarakat ketika mereka kembali berbaur dengan masyarakat tetap lebih dingin. Meski disebut tahanan Lembaga Pemasyarakatan, toh stigma sebagai "sampah masyarakat" tetap melekat dan berbunyi sama di bisik-bisik warga. 

Tidak banyak yang mau perduli dan mencari tahu kisah sebenarnya. Kerap mereka adalah Robin Hood yang merampok dan membantu kaum miskin, atau Muktar Pakpahan eks Pemimpin Partai Buruh yang selalu vokal menentang rezim Orde Baru.

Misalnya seperti dipuisikan oleh rekan Seno ini:
Kenapa aku dipenjaraKetika hak-hak engkau renggut 
Ketika rumahku kau hancurkanKetika tanahku kau gusur
Ketika kau bebankan kepadakuHutang-hutang yang kian menggunung
Aku tak pernah menuntut

Kenapa aku dipenjara
Ketika engkau memakan jatahku
Ketika engkau menjarah milikku
Ketika engkau menguras keringatku
Ketika engkau menginjak-injak harkatku
Aku tak pernah menuntut

Kenapa aku dipenjara
Ketika aku ingin mendapatkan hakku
Ketika aku ingin memilih
Ketika aku hanya ingin menggoreskan pena
Pena yang akan menentukan masa depanmu
Bukan masa depanku
Aku tak bisa menuntut

Kenapa aku dipenjara
Engkau yang menyuruhku
Engkau yang memenjarakanku
Engkau yang memaksaku
Engkau yang membawaku ke rumah besi
Aku tak daya menuntut
Engkau ada karena aku ada
Engkau berdiri karena aku

Hidupmu 
Itu karena aku
Aku bukan mengungkit jasa-jasaku
Aku hanya ingin tahu
Kenapa engkau memenjarakan aku
Kenapa engkau memenjarakanku
Aku diam bukan karena tak tahu
Aku diam bukan karena aku buta
Aku diam bukan karena aku tuli
Aku diam karena ...
Aku memikirkan nasibmu


Maka, sebelum semakin mengharu-biru, ada baiknya kita mengerti apa saja yang masih dimiliki oleh seorang tahanan, sebelum mereka dipenjara. Yang masih mereka miliki secara utuh, menandakan bahwa mereka tetap manusia dan kemanusiaan mereka tidak serta-merta hilang dengan status tahanan.


APA ITU PENAHANAN


Penahanan adalah upaya paksa menempatkan Tersangka/Terdakwa disuatu tempat yang telah ditentukan, karena alasan dan dengan cara tertentu (Undang-Undang No. 8 tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP) pasal 1).


DIMANA PARA TAHANAN DI TEMPATKAN


Selama proses penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan, Tersangka/Terdakwa ditempatkan di Rumah Tahanan Negara atau Rutan (PP No. 27 tahun 1993 pasal 1). Tetapi ada juga tahanan yang ditempatkan di Lembaga Pemasyarakatan, karena berdasarkan SK MENKEH RI No. M. 03.UM.01.06 tahun 1983, beberapa Lembaga Pemasyarakatan tertentu dapat ditetapkan sebagai Rumah Tahanan Negara (RUTAN).


PIHAK-PIHAK YANG BERHAK MENAHAN 


Penyidik, yaitu polisi atau pejabat lain yang diberi wewenang untuk melakukan serangkaian tindakan pengumpulan bukti

Penuntut Umum, yaitu jaksa yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk melakukan penuntutan dan melaksanakan penetapan hakim

Hakim, baik hakim Pengadilan Negeri maupun hakim Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung, yaitu pejabat peradilan negara yang diberi wewenang oleh undang-undang untuk mengadili.

 ALASAN PENAHANAN (pasal 21 KUHAP)


Penahanan hanya dapat dilakukan terhadap Tersangka/Terdakwa yang melakukan tindak pidana atau percobaan melakukan tindak pidana, atau yang memberi bantuan dalam melakukan tindak pidana tersebut, dalam hal:

  1. Tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara lima tahun atau lebih; 
  2. Terhadap orang yang melakukan tindak pidana, misalnya penganiayaan (pasal 351 ayat 1 dan pasal 353 ayat 1), penggelapan, penipuan (pasal 372, 378 dan 379a), mencari nafkah dengan memudahkan orang melakukan percabulan (germo/mucikari) pasal 296, mucikari yang melakukan eksploitasi pelacur (pasal 506) dan berbagai tindak pidana lainnya. 
  3. Pelanggaran peraturan Bea & Cukai (pasal 25 dan pasal 26 Ordonansi Bea & Cukai),
  4. Planggaran terhadap UU Tindak Pidana Imigrasi (UU No.8 Drt 1955) sebagaimana diatur dalam pasal 1,2 dan pasal 4. 
  5. Penggunaan Narkotika pasal 36 ayat (7), pasal 41, pasal 42, pasal 43, pasal 47 dan pasal 48 UU No. 9 Tahun 1976.


BATAS WAKTU PENAHANAN


Penahanan oleh Polisi dan pejabat lain (pasal 24 KUHP)

Batas waktu penahanan paling lama 20 (dua puluh) hari. Bila masih diperlukan --dengan seijin Penuntut Umum--, waktu penahanan dapat diperpanjang paling lama 40 (empat puluh) hari. Jika sebelum 60 hari pemeriksaan telah selesai, Tahanan dapat dikeluarkan dan jika sampai 60 hari perkara belum juga putus maka demi hukum, Penyidik (Polisi) harus mengeluarkan Tersangka/Terdakwa dari tahanan.

Penahanan atas perintah Penuntut Umum (pasal 25 KUHP)

Batas waktunya paling lama 20 (dua puluh) hari. Dengan seijin Ketua Pengadilan Negeri, waktu dapat diperpanjang paling lama 30 (tiga puluh) hari. Jika pemeriksaan telah selesai, sebelum batas waktu 50 hari, Tersangka/Terdakwa dapat dikeluarkan. Lepas 50 hari, meski perkara belum diputus, tapi demi hukum PenuntutUumum harus mengeluarkan Tersangka/Terdakwa dari tahanan.

Penahanan atas surat perintah penahanan Hakim Pengadilan Negeri (pasal 26 KUHP)

Batas waktu penahanan paling lama 30 (tiga puluh) hari. Bila belum selesai, penahanan dapat diperpanjang paling lama 60 (enam puluh) hari dengan seijin Ketua Pengadilan Negeri. Jika pemeriksaan telah selesai, sebelum batas waktu maksimal, Tersangka/Terdakwa dapat dikeluarkan dari tahanan. Jika batas waktu maksimal (90 hari) telah habis, meski perkara belum diputus, demi hukum Tersangka/Terdakwa harus dikeluarkan.

Penahanan atas surat perintah penahanan hakim Pengadilan Tinggi (pasal 27 KUHP)

Batas waktu penahanan paling lama 30 (tiga puluh) hari. Dengan seijin Ketua Pengadilan Tinggi, waktu penahanan dapat diperpanjang paling lama 60 (enam puluh) hari. Tersangka/Terdakwa dapat dikeluarkan dari tahanan sebelum batas waktu maksimal (90 hari), jika pemeriksaan telah selesai. Jika telah 90 (sembilan puluh) hari perkara belum diputus, maka demi hukum Tersangka/Terdakwa harus dikeluarkan.

Penahanan atas perintah penahanan Mahkamah Agung (pasal 28 KUHAP)

Untuk kepentingan pemeriksaan kasasi, batas waktu penahanan paling lama 50 (lima puluh) hari. Jangka waktu penahanan tersebut dapat diperpanjang dengan batas waktu paling lama 60 (enam puluh) hari, untuk kepentingan pemeriksaan. Jika pemeriksaan telah selesai sebelum jangka waktu 110 hari, Terdakwa/Tersangka dapat dikeluarkan. Meski perkara belum diputus, tetapi jika Terdakwa/Tersangka telah menjalani tahanan selama seratus sepuluh (110) hari, maka demi hukum ia harus dikeluarkan.


JENIS PENAHANAN (Pasal 22 KUHAP)


Penahanan Rumah Tahanan Negara 

Tersangka/Terdakwa ditempatkan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) atau di Lembaga Pemasyarakatan yang ditetapkan sebagai Rumah Tahanan Negara.


Penahanan Rumah

Penahanan dilaksanakan di tempat tinggal atau tempat kediaman Tersangka/Terdakwa, dengan tetap dibawah pengawasan pihak yang berwenang untuk menghindari segala sesuatu yang akan menimbulkan kesulitan dalam penyidikan, penuntutan atau pemeriksaan di sidang pengadilan (Pasal 22 KUHAP ayat 2).


Penahanan Kota 

Penahanan dilaksanakan di kota tempat tinggal tersangka/terdakwa. Tersangka/Terdakwa wajib melapor diri pada waktu yang ditentukan (Pasal 22 KUHAP ayat 3)


PENGECUALIAN PERPANJANGAN (pasal 29 KUHAP)

Ketentuan perpanjangan waktu penahanan (30 sampai 60 hari) berlaku bagi setiap Tahanan. Kecuali bila ada alasan yang patut dan tidak dapat dihindarkan, misalnya: karena Tersangka/Terdakwa menderita gangguan fisik atau mental yang berat (dengan surat keterangan dokter), atau perkara yang sedang diperiksa diancam dengan pidana penjara sembilan tahun atau lebih. Untuk kondisi-kondisi tersebut, setiap Tersangka/Terdakwa berhak mengajukan keberatan terhadap perpanjangan batas waktu penahanan ini melalui Ketua Pengadilan Tinggi (untuk tingkat penyidikan dan penuntutan). Sedang untuk tingkat Pengadilan Negeri dan pemeriksaan banding, pengajuan itu ditujukan kepada Ketua Mahkamah Agung.


PENGURANGAN MASA TAHANAN (Pasal 22 ayat 4 dan 5)


Jika hukum pidana telah dijatuhkan, maka masa penahanan dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan. Untuk penahanan kota, pengurangan tersebut seperlima dari jumlah lamanya waktu penahanan. Sedang untuk penahanan rumah, pengurangannya sepertiga dari jumlah lamanya waktu penahanan.


HAK ANDA SEBAGAI TAHANAN


  • Menerima surat perintah penahanan atau penetapan hakim dari petugas. Surat penahanan berisi identitas anda, alasan penahanan serta uraian singkat tentang kejahatan yang disangkakan atau didakwakan kepada anda serta tempat anda ditahan nantinya (pasal 21 ayat 2 KUHAP)
  • Meminta petugas menyerahkan tembusan surat perintah penahanan kepada keluarga anda (pasal 21 ayat 3 KUHAP)
  • Ditempatkan secara terpisah berdasarkan jenis kelamin, umur serta tingkat pemeriksaan (pasal 1 ayat 2 PerMenkeh RI No. M.04.UM.01.06 tahun 1983)
  • Mendapat perawatan yang meliputi makanan, pakaian, tempat tidur, kesehatan rohani dan jasmani (pasal 5 PerMenkeh RI)
  • Tidak diberlakukan wajib kerja bagi tahanan dan bila anda ingin bekerja secara sukarela, anda harus mendapatkan ijin dari instansi yang menahan (pasal 15 PerMenkeh RI )
  • Segera mendapat pemeriksaan oleh penyidik, diajukan kepada penuntut umum dan kemudian proses ke pengadilan (pasal 50 ayat 1 dan 2 KUHAP)
  • Dapat secara bebas memberikan keterangan kepada penyidik (pasal 52 KUHAP)
  • Mendapatkan bantuan hukum dari penasihat hukum selama pemeriksaan dan pada setiap tingkat pemeriksaan. Anda bebas memilih sendiri penasihat hukum anda (pasal 54 dan 55 KUHAP)
  • Mendapatkan Bantuan Hukum secara cuma-cuma, bila tidak mampu (pasal 56 ayat 2 KUHAP)
  • Bebas menghubungi penasihat hukum (pasal 57 ayat 1 KUHAP)
  • Mendapatkan kunjungan dari keluarga, penasihat hukum dan orang lain (pasal 18 ayat 1 PerMenkeh RI)
  • Bebas melakukan surat-menyurat dengan penasehat hukum atau sanak keluarga (pasal 18 ayat 4 PerMenkeh RI)
  • Menuntut ganti kerugian dan rehabilitasi jika tidak terbukti bersalah (pasal 68 KUHAP)



PEREMPUAN HAMIL DAN MENYUSUI


Pada prinsipnya, hak bagi Tahanan perempuan yang sedang hamil dan menyusui tidak berbeda dengan Tahanan lainnya. Perbedaannya hanya pada menu makanan. Menu makanan bagi Tahanan perempuan yang hamil dan menyusui, diatur tersendiri dan berbeda dengan mereka yang dalam kondisi normal (diatur di pasal 7 PerMenkeh RI).


PERBEDAAN DITAHAN DAN DIPENJARA


Umumnya orang menganggap, bahwa ditahan sama dengan dipenjara. Padahal tidak demikian. Seseorang ditahan jika diduga keras melakukan kejahatan, karenanya untuk sementara dia dimasukkan ke dalam tahanan untuk kepentingan penyelidikan, penyidikan dan pemeriksaan dari perkara yang disangkakan kepadanya. Berarti dia belum tentu bersalah dan bisa saja dibebaskan bila dalam penyelidikan, penyidikan dan pemeriksaan tersebut tidak ditemukan bukti bahwa dia bersalah.

Sedangkan seseorang dipenjara karena dia telah terbukti melakukan kejahatan dan telah menerima keputusan hakim (vonis) yang bersifat tetap.


INGAT HAK ANDA


Jika anda berstatus sebagai Tahanan dan hak anda sebagai Tahanan telah dilanggar oleh pihak lain seperti polisi, penyidik atau aparat penegak hukum lainnya, anda dapat melaporkan pelanggaran tersebut kepada Departemen Kehakiman atau ke Komnas HAM.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar