"Adat Ketimuran itu juga taik! Mengapa perlu bicara begitu?
Ya karena memang “adat ketimuran” hanyalah mantra, bukan realita, yg diasongkan orang ketika ada situasi tak terkehendaki yg muncul dihadapannya tanpa dinyana-nyana dan agaknya, tak-terkendalikan pula. Jadi marilah menjadi bangsa yg lupa pernah dikandangin dengan berangus adat ketimuran, terutama karena kita tidak pernah menjadi baik atau pun berhasil jadi orang lantaran beradat ketimuran."
Ini komentar dari seorang pembaca di sebuah post milik bang Deny Siregar.
Banyak relawan pendukung Ahok yang mendukung Ahok supaya Ahok maju sebagai calon independen di kontestasi Pilgub 2017 merasa geram dengan opinionisasi yang dilancarkan oleh para penentang Ahok. Sederhananya, ini adalah pertarungan jargon antara Teman Ahok dan Musuh Ahok.
Buat Teman Ahok, mereka punya segudang alasan untuk mendukung Ahok maju sebagai calon independen, mengingat karakter beliau yang sejauh ini dinilai oleh publik sebagai sosok yang lebih banyak BERBUAT dan banyak BERBICARA.
Untuk perbuatannya, banyak warga DKI merasa puas.
Untuk bicaranya, banyak warga DKI merasa hal itu tidak pantas.
Lalu lahirlah jargon ini: "Pejabat itu mesti amanah dan santun"
Entah apa maksud mereka dengan "amanah" dan "santun".
Lantas, apa relevansi antara santun yang dianggap sebagai karakter punggawa adat ketimuran dengan kemajuan yang akan dicapai oleh suatu daerah?
Sebagian menilainya: NIHIL.
Seperti pelontar komentar di atas.
Buat saya, untuk banyak hal, terutama di tengah kontestasi Pilgub 2017 ini, saya setuju dengan komentar di atas.
Ini komentar dari seorang pembaca di sebuah post milik bang Deny Siregar.
Banyak relawan pendukung Ahok yang mendukung Ahok supaya Ahok maju sebagai calon independen di kontestasi Pilgub 2017 merasa geram dengan opinionisasi yang dilancarkan oleh para penentang Ahok. Sederhananya, ini adalah pertarungan jargon antara Teman Ahok dan Musuh Ahok.
Buat Teman Ahok, mereka punya segudang alasan untuk mendukung Ahok maju sebagai calon independen, mengingat karakter beliau yang sejauh ini dinilai oleh publik sebagai sosok yang lebih banyak BERBUAT dan banyak BERBICARA.
Untuk perbuatannya, banyak warga DKI merasa puas.
Untuk bicaranya, banyak warga DKI merasa hal itu tidak pantas.
Lalu lahirlah jargon ini: "Pejabat itu mesti amanah dan santun"
Entah apa maksud mereka dengan "amanah" dan "santun".
Lantas, apa relevansi antara santun yang dianggap sebagai karakter punggawa adat ketimuran dengan kemajuan yang akan dicapai oleh suatu daerah?
Sebagian menilainya: NIHIL.
Seperti pelontar komentar di atas.
Buat saya, untuk banyak hal, terutama di tengah kontestasi Pilgub 2017 ini, saya setuju dengan komentar di atas.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar