Rabu, 23 Maret 2016

Sustainability dalam Pengembangan KSPN Danau Toba berarti Konsisten Memberikan Impressum

Menarik membaca postingan dari media online setempat yang mengisahkan perjalanan Pak Raja Sianturi sebagai salah satu dari 55 penumpang terbang perdana Garuda untuk trayek Jakarta - Silangit.

Berikut berita dari laman Suara Tapanuli yang dimaksud:
Penerbangan perdana pesawat Garuda Indonesia jenis CRJ 1000 dari Soekarno-Hatta Jakarta ke Bandara Silangit Taput, Selasa (22/3) mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan masyarakat Tapanuli. Namun siapa sangka peristiwa bersejarah ini hanya dimiliki oleh segelintir orang, hanya 55 orang.

Beberapa di antaranya adalah keluarga Raja Sianturi. Pria asal Tanah Batak ini kini sudah tinggal menetap dan bekerja di Jakarta. Mereka mengaku bangga dan sangat senang bisa menjadi bagian dari sejarah kian berkembangnya kawasan Tapanuli tersebut.


Dalam penerbangan selama 2 jam 40 menit itu, Raja ditemani istri, putranya dan menantu perempuannya, serta seorang cucu.

“Kami sangat menikmati penerbangan perdana ini. Tidak ada goncangan yang berarti saat berada di udara yang membuat kita kadang merasa takut. Begitu nyaman,” tutur Raja setibanya di Silangit.

Dengan raut wajah penuh kegembiraan, Raja menceritakan bahwa kepulangannya kali ini adalah untuk berziarah ke makam keluarga di Kecamatan Muara, Taput, sembari menghabiskan liburan Hari Raya Paskah nanti. “Memang sengaja pulang kampung untuk libur Paskah dan mau ziarah,” ungkapnya.

Dia mengapresiasi semua pihak yang telah mendorong pengembangan Bandara Silangit hingga dibukanya rute penerbangan langsung Jakarta-Silangit pulang pergi oleh maskapai terbaik di Indonesia bahkan di tingkat internasional.

“Kami dengar jadwal penerbangannya tiga kali dalam seminggu. Itu bagus sekali, saya yakin kawasan Tapanuli ini akan cepat berkembang, dan bukan tidak mungkin nanti jadwal penerbangan menjadi ada setiap hari,” katanya.

Sebelumnya, sambung Raja, jika dirinya ingin pulang kampung biasanya terbang dari Jakarta ke Medan, kemudian menempuh jalur darat ke Tapanuli. Itu membutuhkan waktu berjam-jam. Tapi dengan adanya rute baru ini, waktu dan tenaga menjadi jauh lebih efisien.

‪Ditanya kocek yang harus dia keluarkan untuk membeli tiket, kakek yang ramah ini menggelengkan kepala dan menjelaskan bahwa perjalanannya kali ini dibiayai oleh perusahaaan tempat ia bekerja.

“Meski demikian saya berharap harga tiket yang ditawarkan pihak maskapai agar terjangkau,” pintanya.

Di penerbangan perdana itu pesawat lepas landas dari Jakarta pada pukul 09.00 WIB, dan tiba di Silangit pada pukul 11.40 WIB. Pesawat bermesin jet itu juga membawa penumpang spesial, di antaranya Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi, Anggota DPR RI Anton Sihombing, Direktur Niaga PT Garuda Indonesia Handayani, Presiden Direktur Angkasa Pura (AP) II Budi Karya, tokoh masyarakat Sumut DR RE Nainggolan, mewakili Menteri Pariwisata BP Hiramsyah Sambudy, mewakili Menteri Perhubungan Maryati Karma, dan mewakili Menteri BUMN BP M Khoerun Roziqin.

Setibanya di Silangit, seluruh penumpang disambut oleh Bupati Taput Drs Nikson Nababan, Bupati Humbahas Dosmar Banjarnahor SE, Bupati Tobasa Ir Darwin Siagian, Bupati Samosir Rapidin Simbolon, serta sejumlah tokoh masyarakat. Tak luput dengan sajian Tortor Batak dan penyematan souvenir ulos kepada seluruh rombongan. 

Primum Impressum
"Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah Anda".
Ini adagium yang dipegang oleh setiap marketer yang memberi kebebasan penuh kepada siapapun calon pembeli atau pelanggan.
Seperti kisah Pak Raja Sianturi yang bersedia kisah curhatnya dituliskan, dia telah menjadi bagian dari primum impressum-nya Garuda. Sejatinya, Garuda bukanlah maskapai pertama yang terbang ke Silangit, tetapi mengingat besarnya brand image Garuda dibanding kompetitor domestik, maka pengalaman pertama menaiki Garuda ini akan tetap berbunyi lebih "wah" dibanding ratusan flight yang sudah ada sebelumnya.

Dan sebagaimana biasanya, impressum ini akan menjadi katalisator bagi brand management selanjutnya dalam konteks yang lebih luas.

Maksudnya bagaimana?
Sekian persen keyakinan pembaca yang sebelumnya meragukan komitmen dari pemerintah dan swasta untuk meramaikan pengembangan Kawasan Pariwisata Danau Toba akan bertambah.
Seiring dengan gebrakan branding yang lain, keyakinan dari pembaca terutama warga setempat ini akan menyuburkan keniscayaan pertumbuhan ekonomi dari sektor pariwisata.
Mengikut jejak pak Raja sebagai konsumen, berikutnya kita akan semakin tertarik mendengar:

"Bangganya Jadi Peyicip Pertama Kopi Humbang Dalam Kemasan Semewah Starbucks" (Memangnya sudah ada, saya tidak tahu. Kalau belum ada, berarti ini blue ocean market. Pangsa pasar segar yang bisa disasar dan dimulai oleh para barrista coffee yang ingin membuka usaha sendiri)

"Bangganya Jadi Panortor Pertama Mengisi Konvensi Internasional di Hotel Bintang Lima Kawasan Danau Toba" (Saat ini belum dibangun. Tetapi, jika kawasan pariwisata Danau Toba nanti benar berhasil menjadi destinasi wisata kelas dunia, ini adalah keniscayaan)

"Bangganya Jadi General Manager Hotel Pribumi Pertama di Swiss Belhotel - Silangit" (Saat ini juga belum ada. Tapi akan ada. Idem dengan yang di atas)

Dan akan ada untaian "bangganya"-"bangganya" yang lain.

Ini saatnya bagi setiap warga lokal yang ingin mencari opportunity di tengah pengembangan destinasi Danau Toba. Kesempatan untuk memaksimalkan potensi mereka selama ini, lalu mengidentifikasi ke sektor mana mereka bisa berkecimpung, berjuang, bersusah-payah, dan berprestasi di sana. Hasil akhirnya, selain dapur tetap bisa mengepul, ialah kebanggaan-kebanggaan seperti di atas yang sulit ditukar nilainya dengan rupiah semata.

Tentu kebanggaan hanya bisa muncul jika kesan pertama atau primum impressum berlanjut dengan secunda impressum, tertium impressum, et cetera.

Dalam konteks branding pariwisata Danau Toba, ini berarti komitmen untuk sustainability

Bukan apa, soalnya setiap kesan pertama itu bisa disulap.
Yang bertahan hingga akhir, ialah mereka yang selalu menciptakan kesan kedua, ketiga dan ke-sejuta berikutnya ... yang lebih wah daripada kesan pertama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar