Minggu, 27 Maret 2016

Tesis tentang Feuerbach oleh Karl Marx (Rewritten with necessarily Indonesian's grammar corrections)



Ludwig Feuerbach

1

Kekurangan utama dari semua materialisme yang ada sampai sekarang - termasuk materialisme Feuerbach - ialah bahwa hal ihwal (Gegenstand), kenyataan dan kepancainderaan, digambarkan hanya dalam bentuk benda (Objekt) atau renungan (Anschauung), tetapi tidak sebagai aktivitas pancaindera manusia, praktek, tidak secara subyektif. Di sisi lain, segi aktif, bertentangan dengan materialisme, dikembangkan oleh idealisme - tetapi hanya secara abstrak, karena tentu saja idealisme tidak mengartikan aktivitas pancaindera yang nyata dengan cara demikian. 

Feuerbach membicarakan benda-benda kepancainderaan, yang benar-benar dibedakan dari benda-benda pikiran, tetapi dia tidak mengartikan aktivitas manusia itu sendiri sebagai aktivitas obyektif (gegenständliche). Oleh karena itu, dalam Das Wesen des Christentums, dia memandang sikap teoritis sebagai satu-satunya sikap manusia yang sejati, sedang praktek digambarkan dan ditetapkan hanya dalam bentuk permunculannya yang Judais dan kasar. Karena itu dia tidak menangkap arti penting aktivitas "revolusioner" dan aktivitas "kritis-praktis".

2

Soal apakah kebenaran obyektif (gegenständliche) bisa dianggap berasal dari pemikiran manusia bukanlah soal teori melainkan soal praktek. Dalam praktek manusia harus membuktikan kebenaran itu, yaitu, kenyataan dan daya sekularisme (Diesseitigkeit) dari pemikirannya. Perdebatan mengenai kenyataan atau bukan kenyataan dari pemikiran yang terasing dari praktek merupakan soal skolastik semata-mata.

3

Ajaran materialis (bahwa manusia itu adalah hasil keadaan dan didikan - dan karenanya - manusia yang berubah adalah hasil keadaan-keadaan lain, dan didikan yang berubah) melupakan bahwa manusialah yang mengubah keadaan dan bahwa pendidik itu sendiri memerlukan pendidikan. Karena itu, ajaran ini menurut keharusan sampai tingkat dimana kita secara logis mesti membagi masyarakat menjadi dua bagian, satu di antaranya adalah lebih unggul daripada masyarakat.

Terjadinya perubahan keadaan dengan berubahnya aktivitas manusia secara bersamaan bisa dibayangkan dan dimengerti secara rasionil hanya sebagai praktek yang merevolusionerkan.

4

Feuerbach bertolak dari kenyataan pengasingan-diri (fuga mundi) secara keagamaan. Ia menggandakan dunia yang satu menjadi dunia khayali yang bersifat keagamaan dan dunia nyata yang bersifat keduniawian. Ia berusaha dunia keagamaan ke dalam dasar duniawinya. Dia mengabaikan kenyataan bahwa sesudah menyelesaikan pekerjaan itu, ia mesti harus melakukan pekerjaan utama. Karena kenyataan bahwa dasar duniawi itu melepaskan diri dari dirinya dan menegakkan diri di awang-awang sebagai kerajaan yang berdiri sendiri sesungguhnya hanyalah dapat diterangkan dengan pembelahan-diri dan sifat pertentangan dengan diri sendiri dari dasar duniawi itu. Karena itu yang tersebut belakangan itu sendiri lebih dulu harus dipahami dalam kontradiksinya dan kemudian, dengan ditiadakannya kontradiksi itu, direvolusionerkan dalam praktek. Dengan begitu, misalnya, sekali keluarga duniawi itu ditemukan sebagai rahasia dari keluarga suci, maka yang tersebut duluan itu sendiri harus dikritik dalam teori serta direvolusionerkan dalam praktek.

5

Feuerbach tidak puas dengan pemikiran abstrak, berpaling kepada kontemplasi kepancainderaan; tetapi dia tidak menganggap kepancainderaan sebagai aktivitet praktis, aktivitet pancaindera-manusia.

6

Feuerbach melebur hakekat keagamaan ke dalam hakekat kemanusiaan. Tetapi hakekat kemanusiaan bukanlah abstraksi yang terdapat pada satu-satu individu. Dalam kenyataannya ia adalah keseluruhan dari hubungan-hubungan sosial.

Oleh karenanya ...

Feuerbach, yang tidak memasuki kritik terhadap hakekat yang nyata itu, terpaksa mengabstraksi dari proses sejarah dan menetapkan sentimen keagamaan (Gemüt) sebagai sesuatu yang dengan sendirinya dan mengandaikan perorangan manusia yang abstrak, subyek yang terisolasi.

Karena itu, baginya hakekat kemanusiaan bisa dimengerti hanya sebagai "jenis", sebagai suatu keumuman intern yang bisu yang hanya dengan wajar mempersatukan perorangan yang banyak itu.

7

Oleh karenanya, Feuerbach tidak melihat bahwa "sentimen keagamaan" itu sendiri adalah hasil sosial, dan, bahwa perorangan yang abstrak yang dianalisanya nyatanya termasuk bentuk khusus dari masyarakat.

8

Kehidupan sosial pada hakekatnya adalah praktis. Segala keghaiban secara menyesatkan menuntun pada pada teori mistik yang menemukan pemecahannya yang rasionil dalam praktek manusia dan dalam pemahaman praktek itu.

9

Titik tertinggi yang dicapai oleh materialisme kontemplatif (materialisme yang tidak memahami kepancainderaan sebagai aktivitet praktis) adalah renungan satu-satu individu dalam "masyarakat sipil".

10

Dasar materialisme lama ialah masyarakat "sipil"; dasar dari materialisme baru ialah masyarakat manusia, atau umat manusia yang bermasyarakat.

11

Para ahli filsafat hanya telah menafsirkan dunia, dengan berbagai cara; akan tetapi soal yang lebih penting lagi, yang belum banyak mereka lakukan ialah: mengubahnya.

(Ditulis oleh Marx dalam musim semi 1845. Mula-mula diterbitkan oleh Engels dalam 1888 sebagai Lampiran pada edisi yang tersendiri dari karyanya Ludwig Feuerbach. Dicetak menurut naskah edisi tersendiri pada tahun 1888 dan diperiksa dengan manuskrip Karl Marx.)

Sumber: Marxists

Tidak ada komentar:

Posting Komentar